Setelah Menamatkan Kitab Sehat Eyang Widodo Asmowiyoto
Memilih menjadi seorang jurnalis artinya menghibahkan diri kepada masyarakat, untuk menjadi pengawas jalannya rezim pemerintah, agar tetap berjalan pada koridor, sehingga media tempat jurnalis berkarya juga disebut sebagai pilar keemapat dalam system negara demokrasi, maka pantaslah jurnalis juga disebut menjadi mata dan telinga masyarakat.
Profesi ini menuntut para jurnalis harus kerja keras dan kerja tuntas serta siap siaga dalam waktu 24 jam, yang membuat pola hidup menjadi kacau balau, tak jelas kapan waktu tidur dan kapan waktu makan, semuanya menjadi rabun saat memburu berita, sehingga tak jarang para jurnalis menempatkan pekerjaan diatas kesehatannya.
Setelah memabaca buku karya seorang wartawan senior SUARA RAKYAT, Widodo Asmowiyoto, yang jika dilihat dari usia patut disebut sebagai eyang, karena beliau lahir pada 25 January 1956 di Kabupaten Sragen, dan mulai bekerja sebagai wartawan pada tahun 1981 hingga sekarang, Widodo Asmowiyoto juga dikenal sebagai jurnalis yang handal, dia dikenal oleh rekan rekannya sesama jurnalis sebagai orang yang bekerja ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas. Sehingga dia sering kali dikirim mewakili Indonesia ke forum jurnalis international, selain redaktur dia juga aktif dalam organisasi PWI Pusat.
Dalam buku kecilnya yang berjudul 'Hidup Dengan Satu Ginjal, Perjalanan Panjang Seorang Wartawan' memberikan pencerahan luar biasa kepada saya, agar lebih memperhatikan kesehatan, dalam buku ini mengandung banyak inspirasi yang harus ditiru.
Eyang Widodo Asmowiyoto memaparkan dirinya saat menjalankan profesi sebagai wartawan hingga menjadi Pimpinan Redaksi II di Surat kabar terbesar SUARA RAKYAT sangat luar biasa, mobilitas kerja yang tinggi dan pola hidup yang kacau balau, membuatnya harus berurusan dengan penyakit Ginjal yang menuntutnya harus melakukan operasi pengangkatan ginjal sebelah kanan pada tahun 2004 silam, sehingga dia harus hidup hanya dengan satu ginjal saja. Eyang dengan jelas mengatakan penyakit itu ada karena pola hidupnya yang kacau balau. Sering makan tak teratur, ditambah gizi tak terpenuhi, banyak makan yang berlemak, merokok, begadang, dan kurang olah raga dll (jurnalis pasti tau kebiasaan ini).
Maka setelah memabaca Kitab Sehat Eyang Widodo Asmowiyoto ini, saya seperti mendapat nasehat yang paling berharaga untuk lebih menjaga pola hidup yang sehat. Apalagi kebanyakan jurnalis di Maluku Utara tidak memiliki jaminan asuransi kesehatan sehingga jika sakit tentu akan sangat menderita, maka lebih baik mencegah daripada menderita.
Profesi ini menuntut para jurnalis harus kerja keras dan kerja tuntas serta siap siaga dalam waktu 24 jam, yang membuat pola hidup menjadi kacau balau, tak jelas kapan waktu tidur dan kapan waktu makan, semuanya menjadi rabun saat memburu berita, sehingga tak jarang para jurnalis menempatkan pekerjaan diatas kesehatannya.
Setelah memabaca buku karya seorang wartawan senior SUARA RAKYAT, Widodo Asmowiyoto, yang jika dilihat dari usia patut disebut sebagai eyang, karena beliau lahir pada 25 January 1956 di Kabupaten Sragen, dan mulai bekerja sebagai wartawan pada tahun 1981 hingga sekarang, Widodo Asmowiyoto juga dikenal sebagai jurnalis yang handal, dia dikenal oleh rekan rekannya sesama jurnalis sebagai orang yang bekerja ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas. Sehingga dia sering kali dikirim mewakili Indonesia ke forum jurnalis international, selain redaktur dia juga aktif dalam organisasi PWI Pusat.
Dalam buku kecilnya yang berjudul 'Hidup Dengan Satu Ginjal, Perjalanan Panjang Seorang Wartawan' memberikan pencerahan luar biasa kepada saya, agar lebih memperhatikan kesehatan, dalam buku ini mengandung banyak inspirasi yang harus ditiru.
Eyang Widodo Asmowiyoto memaparkan dirinya saat menjalankan profesi sebagai wartawan hingga menjadi Pimpinan Redaksi II di Surat kabar terbesar SUARA RAKYAT sangat luar biasa, mobilitas kerja yang tinggi dan pola hidup yang kacau balau, membuatnya harus berurusan dengan penyakit Ginjal yang menuntutnya harus melakukan operasi pengangkatan ginjal sebelah kanan pada tahun 2004 silam, sehingga dia harus hidup hanya dengan satu ginjal saja. Eyang dengan jelas mengatakan penyakit itu ada karena pola hidupnya yang kacau balau. Sering makan tak teratur, ditambah gizi tak terpenuhi, banyak makan yang berlemak, merokok, begadang, dan kurang olah raga dll (jurnalis pasti tau kebiasaan ini).
Maka setelah memabaca Kitab Sehat Eyang Widodo Asmowiyoto ini, saya seperti mendapat nasehat yang paling berharaga untuk lebih menjaga pola hidup yang sehat. Apalagi kebanyakan jurnalis di Maluku Utara tidak memiliki jaminan asuransi kesehatan sehingga jika sakit tentu akan sangat menderita, maka lebih baik mencegah daripada menderita.
Upsss..... dan ternyata saya sudah begadang sampai jam 3:34 malam. Harus bongkar kebiasaan ini. Harus !!!

Comments
Post a Comment