Dua Garis Biru yang Menegangkan



Jarum jam menunjukan pukul 3 dinihari. Mahasiswi itu terbangun dengan hatinya yang diselemuti ketegangan, sebenarnya dia tak nyenyak tidur sedari malam, hanya saja dianjurkan untuk menggunakan testpack si pengguna harus tidur terlebih dahulu agar hasilnya lebih akurat. Diraihnya alat tes kehamilan itu yang tak jauh dari tempat tidur, dia menuju kamar mandi untuk mengambil sedikit urine lalu ujung testpack dicelupkan.

Matanya tak lepas dari batang benda berwarna putih itu, pasalnya sudah lebih dari dua minggu tamu bulanannya tak kunjung datang, mau tak mau harus dia pastikan musabab alpa si tamu. Lalu, beberapa saat kemudian tangis pecah dikesunyian malam. Dua garis biru terlihat jelas, yang menunjukan dia postif hamil.

Tangis itu lalu berubah menjadi tawa sumaringah, dipeluk sang suami yang berdiri disamping pintu yang juga tak kalah tegang. Sudah lebih 3 bulan setelah pernikahan, kabar gembira itu tak juga didengar oleh keluarga besar, bahkan beberapa testpack pada bulan sebelumnya hanya berakhir mengecewakan, tapi tidak untuk kali ini, pasangan ini 9 bulan lagi akan resmi menjadi ayah dan ibu dan  pihak keluarga besar juga lebih berbahagia, sebentar lagi  akan menimang cucu pertama yang telah dinantikan.

Itulah momen paling bahagia, saat Kaicilrade kami masih berbentuk segumpal darah dalam perut umminya. dan Beribu sykur dipanjatkan dengan segala Puji Bagi Allah Kaicilrade kami lahir pada 28 Desember 2017 tepat satu tahun 14 hari pernikahan saya dan istri yang jatuh pada 14 Desember 2016. Artinya Kaicilrtade bukan produk ekspresss hahahahha

***

Saya membayangkan kondisi psikologis mereka yang hamil diluar nikah, tentu berbeda dengan cara saya dan istri menyambut kehamilan, mungkin sebagain dari mereka berada dalam kondisi seperti yang dialami  si cantik Zara JKT48 dan Angga Yunanda dalam film Dua Garis Biru. Ide cerita dalam film ini sudah sangat biasa, sebab saya pernah menyaksikan film serupa berjudul Jenny, Juno buatan negara asal Blackpink dan BTS yang rilis pada 2005 lalu, apalagi masa awal remaja saya Alhamdulilah diselamatkan oleh idola kita semua Agneeeeeeeees Monicaaaaaaaaaaa, upssss udah ganti Agnez Mo yah Hehehehhehehe 

Yah berkat Agnez Mo dan si peternak Jin, Sahrul Gunawan dalam sinetron Pernikahan Dini yang membentuk watak saya untuk tidak berani nakal saat pacaran dulu hehehehe. Apalagi dalam kehidupan sehari-hari saya yang menyaksikan banyak siswi maupun mahasiswi yang berlomba-lomba hamil padahal belum nikah, lalu diantara mereka ada yang mendapat gelar MBA alias Marriage By Accident  itu bukan gelas akademik yah. Sungguh saya ingin protes pada kata Accident yang kemudian ditafsirkan sebagai menikah karean kecelakan, helooooo itu kecelakaan apa ?
Saya yakin dan percaya polisi dari jaman nene moyang sampe jaman Mikha Tamboyang pasti bingun menjelaskan peristiwa itu sebagai kecelakaan, apakah itu masuk laka tunggal atau laka apa gitu, kecelakaan kok ketagihan, memanya ada orang yang doyan dapat kecelakaan, noh berdiri di tengah jalan sono biar ditabrak dum truck hehehehehe

Intinya, hamil di luar nikah itu salah dan tidak keren, agama bilang anak yang lahir diluar nikah tidak boleh menggunakan nasab ayah biologisnya, tidak berhak menjadi wali bagi adik perempuannya dan tidak berhak mendapat waris. Untuk dalilnya silahkan nonton ceramah Ustadz Somad, di Youtube banyak.

Meskipun penuh kontroversi, film ini patut ditonton oleh remaja agar mendapatkan gambaran yang utuh tentang akibat dari hamil di luar nikah, harapannya agar hubungan dengan lawan jenis tidak sampai kebablasan, seringlah melihat sekeliling yang  berita kehamilan disambut dengan caci maki dan sumpah serapah, ada anak perempuan yang diusir orang tuanya karena hamil di luar nikah, ada pula yang memberikan penyiksaan fisik karena dianggap telah bikin malu keluarga, dan si pria yang menghamili juga menjadi bulan bulanan bogem mentah dari keluaraga si wanita.

Belum lama ini, saya teramat sedih, kasus aborsi kembali terjadi di Kota Ternate, pelakunya adalah sepasang mahasiswa. Dulu saat liputan di desk hukum dan kriminal, saya paling emosional saat mendapati kasus aborsi, menurut saya itu itu tindakan paling bedebah, setiap kali polisi menangani kasus aborsi maka delik yang digunakan adalah pembunuhan. Dan parahnya yang menjadi tersangka  si wanita, jika kejadian aborsi itu hanya dilakukan oleh si wanita, padahal yang melakukan perbuatan itu adalah pria dan wanita. Disitulah saya merasa teramat sedih.

Sebagai penutup, sering-seringlah menonton agar kamu terselamatkan, udah itu ajah. 

Ternate, 13 Juli 2019 pukul 00:30

Comments

Popular posts from this blog

Rustam yang Khatam Dunia Jurnalistik

Setelah Menamatkan Kitab Sehat Eyang Widodo Asmowiyoto