Rustam yang Khatam Dunia Jurnalistik
Setelah 8 tahun berprofesi sebagai wartawan, saya akhirnya mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) untuk tingkat muda, yang diselenggarakan oleh lembaga pelaksana UKW Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof DR Moestopo (Beragama). Berlangsung di Sahid Bella hotel Ternate, Jumat - Sabtu (9-10/4/2021).
Saat acara akan mulai, saya disergap gugup karena diminta untuk membaca doa dan terlebih namanya juga diuji, pastilah ada tegang tegangnya. Ditambah lagi saya sudah dibisiki oleh seorang senior tentang salah satu penguji yang menurutnya killer. "Yang pake kameja biru itu dia karas," ungkap senior itu tepat di kuping kanan saya. Dalam hati langsung berdoa semoga lelaki itu tak menjadi penguji saya. Dan ternyata doa saya tak terkabul.
Rustam Fachri Mandayun, itu nama lelaki berkameja biru yang kini resmi menjadi penguji saya dan 5 teman wartawan lainnya, Rustam adalah pensiunan majalah TEMPO, media terbesar dan paling tajam di Indonesia, saat ini bertugas sebagai seorang ahli pers yang bermarkas di Dewan Pers, bidangnya menangani soal pengaduan terhadap jurnalis. Mengetahui itu saya langsung membayangkan dua hari ini jalan saya menuju status wartawan berkompeten takan mudah, atau mungkin tak tercapai.
Namun semua dugaan yang membentuk persepsi saya terhadap Pak Rustam langsung tak terbukti setalah 30 menit pertama, pada diri beliau saya menemukan sosok guru bijak yang mengayomi penuh sabar dan ayah yang penyayang yang setia membimbing anaknya. "Anak saya sudah bekerja dan kira kira seusia kamu," kata lelaki bertubuh tinggi ini.
Karena mulai kagum, saya Googling dan menemukan secuil informasi terhadap sosok Rustam dari laman majalah.tempo.co pada Surat Pembaca edisi 14 September 1991 (saat saya baru berusia 5 hari sebagai penduduk bumi), sementara seorang Rustam kala itu telah berusia 34 tahun dan dipercayakan menjabat sebagai kepala Kepala Biro Semarang dan Jogjakarta, satu perbandingan yang sangat jauh bukan?
Selanjutnya Pak Rustam tak sekadar menguji, beliau juga memberikan ilmu kepada kami, dengan suka rela menerangi pikiran kami dengan cahaya ilmu jurnalisme. Menerangkan terkait kode etik dan bagaimana mestinya menjadi seorang wartawan, terutama di era media sosial ini. Beliau menekankan tentang setiap informasi harus diuji kebenarannya. "Yang membedakan kita dengan media sosial adalah disiplin verifikasi," tegasnya.
Disela-sela penat diuji, saya meminta ijin kepada beliau untuk menceritakan tentang pengalaman menjadi jurnalis, yang menurutnya cukup menantang yang dikala itu rezim orde baru sedang berkuasa. "Saat itu kita kerja dibawah ancaman rezim hingga akhirnya TEMPO dibredel tahun 94, yang membuat kami kehilangan pekerjaan," ungkap mantan Redaktur pelaksana TEMPO ini.
Rustam akhirnya bergabung dengan grup Jawa Pos dan diberikan tugas sebagai Kepala Biro Los Angeles Amerika Serikat, ia ditugaskan selam dua tahun, hingga salah satu anaknya lahir di sana. "Setelah orde baru runtuh tahun 1999, TEMPO dihidupkan kembali dan saya kambali bergabung juga pada bagian menajemen, jabatan terakhir saya di sana adalah kepala ombudsman internal," kenang salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini.
Menurut saya, sosok Rustam adalah muara ilmu jurnalistik yang airnya dalam lagi sejuk, saya berharap menjadi timba yang belajar banyak pada beliau, sebab Rustam sangat khatam dalam dunia jurnalistik, dia seorang jurnalis yang jam terbangnya hingga ke luar negeri, juga terlibat dalam menajemen media besar, dan pendiri organisasi pers. Maka tak heran beliau dinobatkan sebagai ahli pers di Dewan Pers Indonesia.
Separuh usanya dijalankan dalam dunia jurnalistik, bahakan di masa purnabhakti ini Rustam menolak berhenti, ia masih mau berdedikasi untuk dunia jurnalistik, menyibukkan diri dengan berbagai laporan masyarakat terhadap jurnalis, dan keliling Indonesia untuk menjadi penguji.
Sehat selalu Pak, terima kasih banyak atas ilmunya 🙏 🙏🙏
Comments
Post a Comment