Diskusi Ahok di Negeri Kiyai



Siang ini rupanya matahari malu malu menampakan wajahnya, tak ada panas menyengat yang bikin mandi peluh, panas justru menghembus di warung kopi para cendekia dan aktivis yang asyik masyuk melempar argument, kali ini soal DKI 1 yang santer menjadi trading topic di seluruh Indonesia. Lalu mengalirlah sanggahan, bantahan, cibiran dan bahkan hinaan keluar dari mulut mereka yang tidak berKTP Jakarta ini, tapi yah sudahlah, , , topik Ahok, Yusril, Dani dan Uno terlanjur seksi dibincangkan.
Seperti biasa, terbagilah mereka dalam kubu yang menyebutkan diri teman atau relawan salah satu kandidat sehingga mati matian membela dengan segala argument, kritik kian tajam, isu kinerja dan agamapun tak luput dari pembahasan mereka. Ya… kinerja dan Agama. Dua isu ini memang yang paling enak di olah lalu dilemparkan pada massa rakyat, biarlah mereka saling tuding dan saling fitnah, atau saling bunuh sekalian.
Sehingga berkembang dengan suburlah sebutan CHINA, JAWA, BETAWI, ISLAM, NASRANI dan segala tengkek bengkeknya, maka terbentuklah politik dalam balutan etnis dan agama, tapi ya sudahlah, itu memang isu yang paling enak digoreng, biarlah dalil kitab suci dilacurkan asalkan mendapat kekuasaan dan justifikasi kafir, tanpa memperhatikan asbabul nujul dan tafsiran para ulama fukaha. Terserah.
Upss…sudah meleset jauh rupanya . Kembali ke warung kopi.
Klaim demi klaim dilontarkan tak peduli benar atau salah asal jadi pembenaran, merembek ke soal kinerja incumbent yang dinilai terlalu arogan dan pencitraan maka lebih baik memilih dia yang pakar Hukum tata negara, yang sudah berpengalaman dan tentunya Islam. begitu kata salah seorang penikmat kopi yang sudah pasti tidak Ber KaTePe Jakarta ini.
Lalu kubuh yang lainnya juga menimpali dengan argument yang menyebutkan lebih baik memilih pengusaha saja, dukungan partai politik juga banyak, dia sudah pasti bisa Karena seorang pengusaha dan juga Islam, ujar lainnya yang tidak punya KTP Jakarta. Diskusi siang begitu alot dan seperti tak ada ujungnya, tapi argument demi argument masih juga mengalir dari mulut mereka yang ber KTP Maluku Utara ini.
Saya kembali menyeruput kopi sambil mendengar diskusi yang makin panas, sempat terbawa dengan argument yg begitu memukau dan meyakinkan itu, hingga rasa pahit dari kopi menyadarkan saya atas keberadaan dan status domisili, maka tersadarlah Gubernur saya adalah kiyai dan bukan China, pakar Hukum, artist, ataupun pengusaha. Ini negeri kiyai bukan Jakarta. Lalu terbentanglah dengan jelas ulah beliua yang rajin mengumbar janji tapi minim realisasi, lalu terbentanglah aksi pemalsuan pangkat dan pejabat peliharaannya yang sudah ditetapkan tersangka kasus korupsi.
Lalu tegukan terakhir kopi dengan ampasnya yang makin pahit menyadarkan saya, bahwa dia adalah kiyai, tak mungkin salah, Karena dia bukan China, dan bukan juga pemimpin kafir, saya jadi ingat ungkapan teman baik sesama jurnalis, Virgiawan Listanto Anas yang mengatakan ini NEGERI KIYAI MAHA MUNAFIK.
ROR, Dzuhur terakhir dibulan maret 2016

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Rustam yang Khatam Dunia Jurnalistik

Setelah Menamatkan Kitab Sehat Eyang Widodo Asmowiyoto

Dua Garis Biru yang Menegangkan