Dear Kaicilrade

Abi menulis ini disaat mentok tak tahu menulis apa, padahal dua proyek tulisan telah jatuh tempo menanti untuk dituntaskan. Tetiba saja Abi  mengingatmu di pulau seberang yang tertidur nyenyak, mengingat tingkah polamu pada suatu siang saat menemukan spidol lalu dengan cepat mencari kertas dan bercoret ria sesukamu.

Sungguh Abi ingin seperti itu, bercoret ria sesuka hati sepertimu😁. Menulis apa saja yang ingin ditulis, menumpahkan semua isi pikiran dengan bebas, sembari berharap ada manfaat bagi manusia lain.

Sebeb menulis adalah perenungan, harus dilakukan dengan hati. Tetapi juga perlu hati-hati, karena dewasa ini tak hanya lidah yang rajin melukai hati, tetapi juga jemari yang rajin menari merangkai kata menebar resah.

Tulisan-tulisan yang dilepas diharapkan menjadi panah asmara yang mampu menciptakan bahagia pada orang yang dikenai, bukan panah amarah yang menyayat hati.

Terkecuali, sayatan itu memang tepat dihadiahkan kepada mereka yang melampaui batas, sebagai pengingat. Tak lebih.

Apalagi di jaman ini, media sosial sering digunakan sebagai tempat menumpahkan segala kebencian, bahkan orang yang belum saling mengenalpun tak segan melukai hati, orang-orang ini biasanya disebut haters 😀.

Abi tak berharap jadi seperti itu, menjadi bagian dari kaum yang hobi menebar resah, menulis kebohongan untuk keuntungan pribadi. Apalagi
tulisan itu akan menjadi jejak digital yang bisa saja kau baca suatu saat nanti. Sungguh memalukan.

Semoga tulisan yang dilahirkan menjadi jejak digital adalah sesuatu yang berfaedah, yang mampu mengetuk pintu hati, bukan lagi luka.

Sehingga pada suatu masa kau akan dengan bangga memamerkan pada orang orang. "Ini tulisan Abi ku."
.
.
Ternate, 12 Juli 2019 pukul 02.05 WIT

Comments

Popular posts from this blog

Rustam yang Khatam Dunia Jurnalistik

Setelah Menamatkan Kitab Sehat Eyang Widodo Asmowiyoto

Dua Garis Biru yang Menegangkan