Melacak Keberpihakan Media pada Kandidat Gubernur
Siang itu, di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Ternate saat meliput kegiatan yang dihadiri oleh Plt Gubernur Maluku Utara, M Natsir Thaib, saya bertemu dengan seorang kenalan yang sudah sangat jarang ketemu, dia salah satu pegawai di kantor itu, karena mengetahui saya adalah wartawan dia lalu melempar pertanyan dengan setengah menyelidik.
“Pak AGK bukannya sudah non-aktif yah, kenapa beritanya di (nama
media) masih disebut sebut telah membangun ini membangun itu,” tanyanya.
Saya hanya tersenyum, dia lalu melanjutkan dengan pertanyaan
yang membuat senyum saya langsung sirna
“Berita di halaman depan itu harganya berapa ?”
Pertanyaan yang menohok itu membuat saya berpikir keras dan
sedikit salah tingkah, sebab saya tahu pasti dia sedang menyindir, tidak mungkin
dia tidak mengetahui soal berita berbayar (advetorial), sebab saya tahu pasti saat bertugas di desk liputan
ekonomi, dia termasuk salah satu orang yang sering mendampingi kepala kantor
untuk wawancara dan berhubungan dengan media.
Saya hanya bisa tertegun dengan pertanyan itu, tak bisa
disangkal produk jurnalistik kita dikritisi oleh pembaca sebegitu hebatnya, dia
dan mungkin banyak pembaca produk jurnalistik di luar sana mungkin membaca
sambil geleng geleng tak percara dengan apa yang dihasilkan oleh pewarta yang
katanya netral itu.
Mereka mungkin tidak pernah tahu soal buku ‘Analisis
Framing; Konstruksi, ideologi dan Politik Media’ yang ditulis oleh Eriyanto
pada tahun 2002, atau buku ‘Analisis Teks Media’ yang ditulis oleh Alex Sobur
pada tahun 2001. Mungkin mereka para pembaca produk jurnalistik yang budiman
tidak pernah membaca itu, tetapi saya dengan haikul yakin, mereka mengetahui
dan mengawasi media mana saja yang telah ‘main serong’.
***
Keberpihakan media dapat diketahui melalui beberapa jenis analisis
teks media, seperti analisis isi kuantitatif, analisis semiotik, analisis
wacana dan anlisis framing. Dalam tulisan ini hanya diuraikan terkait dengan
analisis framing dimana untuk mengetahui realitas dari peristiwa yang dibingkai
oleh media, berdasarkan kepentingan tertentu.
Analisis framing digunakan untuk membedah cara-cara atau ideologi media
saat mengkonstruksikan fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan,
dan tautan fakta ke dalamberita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti
atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya.
Sobur (2001:162).
Framing bertujuan
untuk meciptakan citra, kesan dan makna
tertentu yang diinginkan media, realitas yang ditampilkan adalah erealitas yang
telah dikonstruksikan berdasakan kepentingan tertentu, sehingga dari framing
kita mengetahui media mana yang ditunggaki oleh siapa dan sasarannya untuk
menyerang siapa.
Lalu apakah berita yang telah melalui proses framing oleh
wartawan adalah berita bohong alias hoax ?. Jelas tidak, apa yang dituliskan
itu bukan kebohongan, akan tetapi realitas yang ditulis berdasarkan kepentingan
tertentu saja, sehingga oleh media sudah dibelokan atau diplintir dengan cara
menonjolkan satu sisi dan meniadakan sisi lainnya.
Ada beberapa metode yang digunkan oleh wartawan agar berita atau
produk jurnalsitik itu tidak dikenai pasal pelanggaran kode etik jurnalistik
dan menyalahi undang undang pers. Metode yang biasanya digunakan dalam framing,
sebagaimana yang terangkum oleh pusat kajian media dan komunikasi, remotivi (2015).
Pertama, membuat berita seolah olah telah memenuhi prinsip cover both sides atau keberimbangan berita, yaitu
prinsip kerja jurnalistik yang mewajibkan agar wartawan melakukan konfirmasi kepada
dua belah pihak yang berebrangan secara berimbang, hanya saja pada framing maka
porsi yang diberikan berbeda, sehingga media yang tidak netral pasti akan memihak kepada salah
satu sumber dengan cara menampilkan komentar dari sumber tersebut lebih banyak,
sementara sumber lainnya hanya ditampilkan sedikit saja, biasanya ditulis pada
bagian akhir.
Kedua, memberitakan sesuai fakta hanya saja dikemas sedemikian
rupa dengan sudut pandangan terentu, dimana wartawan memilah dan memilih mana
yang diberitakan, mana yang ditonjolkan dan mana yang dihilangkan, sehingga menimbulkan
kesan dan pesan tertentu kepada khalayak sesuai dengan keinginan media.
Ketiga, penggunaan kata sifat baik yang negatif maupun yang
positif, media tidak mendeskripsikan peristiwa atau perilaku seseorang, akan
tetapi media menilainya, seperti menggunakan kata sifiat, loyo, tegas, lembek,
takut dan lainya. Kata sifat ini sangat subjektif yang lahir dari wartawan itu
sendiri.
Keemapat, dengan menampilkan gambar, sehingga orang itu
dapat terkesan sesuai dengan gambar yang ada, sebab gambar mewakili 1000 kata,
sehingga penggunaan gambar yang pas akan mengesankan orang tersebut terlihat,
cerdas, bodoh, konyol, marah dan lainnya.
Empat metode ini yang sering kali digunakan oleh media dalam
framing berita, untuk menilai apakah suatu berita itu masuk dalam kategori
framing atau tidak, para peneliti menggunkan model analisis framing,
diantaranya model Murray Edelman, model Robert N Etman, model William A. Gamson
dan Andre Modegliani dan terakhir model Zongdan Pan dan Gerald M Kosicki. Hanya
saja 4 model ini akan dibahas pada bagian lainnya.
Dari penjabaran di atas, memang belum cukup lengkap akan
tetapi sudah mampu untuk menjelaskan apakah suatu berita di-framing atau tidak,
dan apabila ada pemberitaan pada Pilgub ini yang lebih memihak kepada salah
satu kandidat gubernur maka dapat ditemukan pada metode framing di atas.
Selain framing, ada juga analisis isi kuantitatif, di mana
keberpihakan media dapat ditemukan pada seberapa banyak media tersebut
memberitakan kandidat gubernur dengan berita yang positif, lalu seberapa banyak
media tersebut memberitakan kandidat lain secara negatif. Analisis ini juga
dapat ditelesuri terkait degan pemilihan isu yang dimainkan, jika ada perubahan
isu yang sebelumnya getol diberitakan lalu tiba tiba hilang begitu saja maka
sebenarnya media telah melakukan permainan.
***
Kembali kepada pertanyaan kenalan saya itu, jelas dia telah
memahami apa yang sedang terjadi antara media dan kandidat, dia mengetahi
dirinya disuguhkan dengan produk sampah yang membodohi dirinya, sehingga berita
berita itu membuat dia merasa muak untuk membacanya. Dan saya sebagai wartawan juga
turut terkena imbasnya, diseret-seret pada produk yang bukan ciptaan saya,
namun apa boleh buat. Dengan menahan
malu saya menjawab pertanyanya itu.
“Ini hanya soal bisnis bung. Trust me i’m Lying.”jawabku.

Comments
Post a Comment